Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu sebelum
ia memulai pencariannya terhadap ilmu. Adapun hal-hal tersebut
adalah;
·
Menjaga niat dalam mencari ilmu
Ikhlas di sini artinya, hendaknya ia niatkan bahwa tujuan mencari ilmu
hanyalah Allah Ta’ala semata, bukan untuk mancari ketenaran yang sifatnya
sementara atau materi dari meteri – materi dunia.
مَن
تَعَلَّمَ عِلْماً مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ, لاَ يَتَعَلَّمُهُ إلاَّ
لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضاً مِن الدُّنْياَ لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
“ Barangsiapa yang mencari
{menuntut} ilmu yang mestinya dia niatkan untuk mencari wajah Allah. Namun dia
tidak mencarinya kecuali untuk kesenangan dari kesenangan – kesenangan dunia,
maka ia tidak akan bisa mencium baunya jannah dihari Qiyamat kelak.” { HR.
Ahmad II / 338, Abu Daud 3664, Hakim I / 85, Ibnu Hiban 78, dishahihkan oleh
al_Albani didalam Shahihul Jami’ 6159, demikianpula adz_Dzahaby dalam al_Kabair
38 / 158 Daar al_Aqidah }
مَنِ ابْتَغَى
الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أو لِيُماَرِيَ بِهِ السُّفَهاَءَ أوْ تُقْبَلُ
أَفْئِدَةُ النَّاسِ فَإِلَى النَّارِ. وَ فِي لَفْظٍ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ
“ Barangsiapa yang mencari ilmu untuk
membanggakan diri dihadapan para ulama’, atau untuk mendebat bodoh, atau untuk
mendapat perhatian manusia. Maka Neraka tempata baginya. Dalam lafadz lain
disebutkan : “ Maka Allah akan memasukkannya kedalam Neraka..” { HR.
Tirmidzi 2656, dishahihkan oleh al_Albani dalam ash_Shahih 6158 }
·
Menjaga diri dari perbuatan dosa
Ilmu adalah cahaya yang Allah Ta’ala berikan kepada hati setiap hamba yang
Ia kehendaki. Dan Allah tidak akan memberikan cahaya tersebut kepada hati
seorang hamba yang banyak berbuat maksiat dan dzalim.
Imam Malik bin Anas rahimahullah pernah menasehati Imam asy_Syafi’i
rahimahullah :
إِنِّي أَرَى اللهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى
قَلْبِكَ نُورًا, فَلاَ تُطْفِئْهُ بِظُلُمَةِ الْمَعْصِيَةِ
" Sesungguhnya aku telah melihat Allah menganugerahkan
cahaya dalam hatimu, maka janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan melakukan
ma’syiat". { Jawaabul
Kaafi hal. 140 }
Imam Syafi’i rahimahullah, menceritakan perihal
dirinya :
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوءَ حِفْظِي,
فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي. فَقَالَ : إِعْلَمْ بِأَنَّ العِلْمَ
فَضْلٌ. وَ فَضْلُ اللهِ لاَ يُؤْتِهِ لِلْعَاصِ
" Aku pernah mengadu kepada Imam Waqi`
rahimahullah guruku tentang buruknya hafalanku, maka beliau
menasihatiku agar aku meninggalkan maksiat. Kemudian Beliau berkata, " Ketahuilah bahwa ilmu itu adalah cahaya, sedang cahaya
Allah itu tidak akan diberikan kepada seorang pelaku maksiat". { Jaawabul Kaafy Ibnul Qayyim hal. 140, al_Adab al_Islamiyah al_Murottabah ’alaa al Huruf al Hija`iyah, Daar at_Thoyyibah.
Riyadh. cet ke-8, thn 2004 M / 1325 H }
·
Rendah hati dalam menuntut ilmu
Bagi
para penuntut ilmu wajib memiliki sifat rendah hati {tawadhu’} dan menjauhi
sifat sombong, sebab sombong bisa menjadi sebab terhalangnya ia dari ilmu itu
sendiri. Hal
ini sebagaimana apa yang dinasehatkan para ulama’ Salaf :
العلمُ حَرْبٌ لِلْفَتَى الْمُتَعاَلِي, كَالسَّيْلِ
حَرْبٌ لِلْمَكاَنِ الْعاَلِي
Imam an_Nawawy rahimahullah
berkata “ Ilmu itu pantangan bagi orang yang sombong, sebagaimana aliran air
pantangan untuk naik ketempat yang lebih tinggi.”
Sebaliknya rendah hati atau
tawadhu’ menjadi sebab seorang pencari ilmu banyak mendapatkan ilmu.
Sebagaimana diungkapkan Imam asy_Syafi’ie rahimahullah :
الْمُتَوَاضَعُ
مِنْ طَلاَّبِ الْعِلْمِ. أكْثَرُهُمْ عِلْماً. كَماَ أنَّ الْمَكاَنَ
الْمُنْخَفِضَ أكْثَرُ الْبَقاَءِ ماَءً
“
Rendah hati dalam mencari ilmu akan lebih banyak mendapatkan ilmu, sebagaimana
tempat yang rendah akan lebih banyak menampung { menggenangkan } air.”
SIMAKLAH…..!!!
Ibnu Wahb rahimahullah
menuturkan : aku pernah mendengar Imam Malik rahimahullah ditanya tentang hukum
menyela - nyela jari ketika wudhu. Maka imam Malik berkata : “ Itu tidak perlu
dilakukan..!!!” Maka akupun membiarkannya sampai aku menemuinya ditempat sunyi.
Lalu akau tunjukkah hadits dari al Musytaurid bin Syidad radhiyallahu ‘anhu,
bahwa ia mendengar Rasulullah melakukan menyela2 jari ketika wudhu… Ibnu Wahab
berkata : “ Maka aku melihat setelah itu setiap kali imam Malik ditanya tentang
menyela2 jari jemari, maka beliau menjawabnya bahwa itu adalah sunnah dan
beliau memerintahkan untuk melakukannya. { Pengatar
Kitab Shahih Fiqhu as_Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib al_ Aimmah Juz.
1, Daar at_Taufiiyyah }
·
Pandai dalam memilih teman
Hendaknya seorang penuntut ilmu tidak banyak bergaul dengan teman-temannya
{ terutama yang berakhlaq buruk } dengan frekwensi yang terlalu sering. Sebab
hal tersebut akan menyita waktunya. Jika ia harus berteman, maka hendaknya
mencari teman-teman orang_orang fakih {berilmu} atau orang yang kecenderungannya
dalam mencari ilmu sama besar.
مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ
وَالْجَلِيْسِ السُّوْءِ
كَمَثَلِ
حَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الكِيْرِ، فَحَامِل الْمِسْكِ
إِمَّا أَنْ يُحْذِيْكَ أَوْ تُبْتَاعَ مِنْهُ أَوْ تَجِدُ
رَائِحَةً طَيِّبَةً
وَنَافِخُ
الكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ
رَائِحَةً خَبِيْثَةً
“ Perumpamaan teman duduk yang
baik dengan teman duduk yang jahat adalah seperti penjual minyak wangi dengan
pandai besi. Adapun penjual minyak wangi tidak melewatkan kamu, baik engkau
akan membelinya atau engkau tidak membelinya, engkau pasti akan mendapatkan
baunya yang enak, sementara pandai besi ia akan membakar bujumu atau engkau
akan mendapatkan baunya yang tidak enak.” { Muttafaqun ‘Alaih }
اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ
فَلْيَنْظُرْ
أَحَدُكُمْ
مَنْ يُخَالِل
“ Seseorang berada di atas
agama temannya, maka hendaknya seseorang di antara kamu melihat kepada siapa
dia bergaul.” {
HR. Ahmad, Abu Dawud }
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu, berkata :
ثَلاَثَةٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ, مَلأَ اللهُ
قَلْبَهُ إِيْمَانًا : صُحْبَةُ الْفَقِيْهِ, وَ تِلاَوَةُ الْقُرْأَنِ وَ
الصِّيَامُ
” Tiga hal yang apabila terdapat dalam diri seseorang, maka Allah memenuhi
hatinya dengan keimanan : ” Berteman dengan orang-orang fakih {berilmu},
membaca al_Qur’an dan melaksanakan shaum.” { al_Adaab asy_Syar’iyyah III / 538 }
قال حسن البصرى : إخْوَانُنَا أَغْلَى
عِنْدَناَ مِنْ أهْلِنَا, فَأَهْلُونَا يَذْكُرُونَنَا الدُّنْياَ وَ إِخْوَانُنَا
يَذْكُرُونَنَا الأَخِرَةَ
Imam Hasan al Bashrie
rahimahullah berkata ; “ Saudara – saudara kita ini lebih berharga bagi kita
daripada keluarga. Keluarga kita mengingatkan kita akan dunia, sedang saudara –
saudara seiman akan mengingatkan kita Akhirat.”{ Dhahiratu Dhu’ful Iman
syaikh Shalih al Munajid hal. 42 }
·
Berusaha mengkomsumsi yang halal
Pada dasarnya, mengkonsumsi makanan yang halal adalah kewajiban atas setiap
muslim.
$ygr'¯»t
úïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
(#qè=à2
`ÏB
ÏM»t6ÍhsÛ
$tB
öNä3»oYø%yu
(#rãä3ô©$#ur
¬!
bÎ)
óOçFZà2
çn$Î)
crßç7÷ès?
ÇÊÐËÈ
” Hai
orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami
berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya
kamu menyembah.” { Qs. Al_Maidah ; 172 }
Syaikh
Abu Bakar Jabir rahimahullah, berkata : ” At_Thayyib adalah halal yang tidak
kotor dan buruk.” { Kitab Minhajul Muslim
Abu Bakar Jabir hal. 99, Daar al_Aqidah }
Maka
bagi seorang penuntut ilmu kehati-hatian dalam mengkonsumsi makanan yang halal
adalah sebuah keniscayaan. Halal dan haramnya konsumsi makanan, akan sangat
berkaitan dengan kemudahan dirinya dalam menuntut ilmu dan keberkahan ilmu yang
akan ia dapatkan.
- Tidak berlebih – lebihan dalam makan dan minum
Seorang
penuntut ilmu hendaklah tidak berlebihan dalam hal makan dan minum, sebab hal
tersebut dapat menimbulkan efek yang tidak baik, seperti akal akan menjadi
tumpul, keinginan tidur akan semakin kuat, malas, mudah sakit dll.
Para
salaf selalu menjaga diri dari hal-hal yang akan menghalangi mereka dalam
proses tholabul ilminya. Mereka sangat sedikit tidur.
Imam Syafii rahimahullah menceritakan perihal
dirinya : " Sejak 16 tahun aku tidak pernah merasakan kenyang kecuali
hanya sekali saja, maka ketika itu aku masukkan jari tanganku sehingga muntah.
Sebab kenyang akan menjadikan badan terasa berat, hati menjadi keras,
kecerdasan akal menjadi tumpul, mudah tidur dan ibadah menjadi lemah". { Siyar A`lamin
Nubala` X / 36, Adabu Asy
Syafii 106, dan al Hilyah IX / 127 }
·
Menghindari bicara yang tidak bermanfaat, dan berlebihan
dalam tidur
Terlalu banyak tidur dan berlebihan dalam membicarakan hal-hal yang tidak
bermanfaat hanya akan membuang waktu dengan sia-sia. Para ulama` salaf sangat
berhati-hati dalam perkara ini. Mereka sangat jauh dari kedua sifat tersebut.
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, قال النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم : مَنْ كَانَ
يُؤمِنُ بِا للهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أوْ لِيَصْمُتْ
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda
: “ Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang
baik atau diamlah.” { HR. Bukhari no. 6018, Muslim no.
47 }
Al_Hafidz Ibnu Hajar Atsqalany rahimahullah berkata mengenai hadits diatas
: ” Segala perkataan yang berorientasi pada kebaikan {wajib-sunnah} maka dikatakan perkataan baik. Sedang
perkataan yang tidak berorientasi pada hal tersebut maka dikatakan perkataan jelek
atau mengarah kepada kejelekan.” { Fathul
Baary X / 446 }
Umar bin Khathab radhiyallahu ’anhu, berkata :
مَنْ كَثُرَ كَلاَمُهُ, كَثُرَ سَقَطُهُ. وَ
مَنْ كَثُرَ سَقَطُهُ, كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ. وَ مَنْ كَثُرَ ذُنُوبُهُ, كَانَتِ
النَّارُ أَوْلىَ بِهِ
” Barangsiapa banyak omong, maka banyak salahnya. Barangsiapa banyak
salahnya, maka banyak dosanya. Barangsiapa banyak dosanya, maka nerakalah yang
pantas untuknya.” { Tazkiyatun Nafs hal. 33
}
Berkata sebagian ulama’ salaf :
مِنْ فِتْنَةِ الرَّجُلِ إِذَا كَانَ
فَقِيْهًا, أَنْ يَكُونَ الْكَلاَمُ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ السُّكُوتِ
” Termasuk
Fitnah bagi seseorang yang fakih {berilmu} adalah suka berbicacra daripada
diam.” { Disebutkan dalam Kitab Adaab asy_Syar’iyyah }
إِذَا تَمَّ الْعَقْلُ, نَقَصَ الْكَلامُ
Abdullah bin Mu’ta
rahimahullah, berkata : “ Jika akal itu sempurna, maka ia tidak akan banyak
berbicara.” {
Madaarijus Saalikiin II / 52 }
Yazid bin Abi Habib rahimahullah pernah berkata : " Sesungguhnya di antara fitnahnya seorang Alim adalah,
jika ia terlalu suka banyak bicara ketimbang diam, padahal diam akan
mendatangkan keselamatan dan menambah ilmu...". Kemudian beliau juga
berkata, "Orang yang berbicara, sejatinya sedang menunggu fitnah. Adapun
orang yang diam, sejatinya ia sedang menunggu rohmah". { Fadhlu al
Ilmi, Hal : 124 – 125 }
·
Tidak menyibukkan diri dalam sesuatu yang kurang
bermanfaat
عن أبي هريرة رضي الله عنه, قال رسول الله صلى
الله عليه وسلم : مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shalallahu ’alaihi wasalam
bersabda : ” Diantara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang
tidak bermanfaat.” { HR. At_Tirmidzi no. 3976, syaikh al_Albani mengatakan hadits
ini shahih }
Mencari ilmu termasuk pekerjaan yang tidak mudah, harus ada semangat dan
waktu yang diluangkan. Maka bagi seorang penuntut ilmu dianjurkan untuk
meminimalisir dari kegiatan-kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan proses
menuntut ilmu. Hal tersebut akan menghilangkan waktu dan menyia-nyiakannya,
tanpa ada manfaat yang bisa diambil. Bahkan, banyak dari ulama`
salaf yang terlambat atau bahkan tidak menikah karena tersibukkan dengan
menuntut ilmu.
Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa Imam Ahmad baru menikah ketika
umurnya mencapai 40 tahun karena sibuknya dalam mempelajari ilmu.
· Selektif dalam mencari dan
memilih guru
Yang dimaksud di sini adalah berusaha mencari figur guru yang baik. Seorang
guru yang mempunyai pemahaman dien yang cukup dan kafabel. Selain itu, guru
tersebut hendaknya seorang figur guru yang sholih dan jauh dari amalan-amalan
yang bisa menjatuhkan wibawanya. Figur guru yang tidak mengejar dunia semata
dengan menjual ilmu yang ia punya.
Muhammad Ibnu Sirin rahimahullah, berkata, " Ilmu ini adalah agama, maka kamu hendaknya perhatikan
dari mana kamu ambil agama tersebut." { Mukaddimah Shahih Muslim Syarah Imam Nawawi I / 126 }
Imam Abu Hanifah rahimahullah ketika menceritakan sebab
ia menjadikan Hammad Ibnu Abi Sulaiman rahimahullah sebagai gurunya. Abu Hanifah berkata "Aku mendapati Hammad Ibnu Abi
Sulaiman adalah sosok figur seorang guru yang berwibawa, sangat lembut
penyantun dan sabar." { Ta’limul
Muta’allim hal. 12 }
{Oleh : Hasan Abu Ayyub}